Cerita Dua Ribu Rupiah

Sumber Foto: todocoleccion.net
Pukul 06.00 wib Ibuku memetik
daun singkong keriting sebanyak 30 batang. Akan diantarkan ke warung adiknya
yang berjualan sayuran.
“Nanti terima uangnya,
atau kalau belum dikasih sama Bu Nur, nanti saat belanja akan Ibu ambil.”
“Berapa bayarannya, Bu?”
“Dua ribu rupiah.”
“Ha, sebanyak itu
dibayarkan dua ribu?”
“Iya, kan mau dijual Bu
Nur lagi, biasanya Ibu dapat banyak, sampai lima belas ribu kalau menjual beberapa
jenis sayuran.”
Aku bergegas mengantarkan
daun singkong itu. Dan pembayaran dua ribu rupiah pun sudah kuterima.
Padahal di kota antah
berantah tempat aku merantau, dua ribu rupiah itu untuk memberi tukang parkir saat
aku mengambil uang di ATM, meskipun ternyata tak berhasil mengambil uang, aku
tetap harus bayar uang parkir sebesar dua ribu rupiah. Sambil ngedumel
aku pergi.
Kisah dua ribu rupiah
yang nominalnya sama, namun nilai keberkahannya yang berbeda.
Jadi ingat bukunya Ustad
Salim A. Fillah yang berjudul Lapis-Lapis Keberkahan.
“Memburu berkah amatlah
berat, tapi justru di dalamnyalah ada banyak rasa nikmat.”
Pantaslah saat
kuperhatikan raut wajah Ibu, terlihat betapa Ia amat bersyukur berapa pun
didapat. Walaupun menurutku tak sebanding dengan jerih payah yang dilakukan.
Namun keberkahan membawa
rasa nikmat yaitu nikmat bahagia, nikmat merasa cukup, nikmat sehat, nikmat
beribadah, dan keberkahan membawa banyak nikmat lainnya.
Komentar
Posting Komentar